Selasa, 21 Juli 2015

Gelombang panas di Pakistan tewaskan hampir 700 orang

Gelombang panas di Pakistan tewaskan hampir 700 orang

Kebanyakan korban gelombang panas adalah warga lanjut usia dari keluarga berpenghasilan rendah.
Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif telah menyerukan perlunya langkah-langkah darurat setelah gelombang panas di Provinsi Sindh menewaskan hampir 700 orang.
Pada Selasa (23/06), Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Pakistan (NDMA) mengatakan telah menerima perintah dari Sharif untuk bertindak cepat menangani krisis gelombang panas.
Perintah itu datang menyusul laporan dari pejabat kesehatan Provinsi Sindh, Saeed Mangnejo, bahwa sebanyak 612 orang telah meninggal di rumah sakit pemerintah Kota Karachi dalam kurun empat hari. Adapun 80 orang lainnya dilaporkan meninggal di rumah sakit swasta.
Kebanyakan korban adalah warga lanjut usia dari keluarga berpenghasilan rendah.
Ribuan pasien juga sedang dirawat, dan sebagian besar berada dalam kondisi serius.

Pemadaman listrik

Pasukan militer sudah dikerahkan untuk membangun pusat penanganan gelombang panas di tengah suhu yang mencapai 45 derajat celsius.
Namun, upaya itu dipandang langkah yang terlambat mengingat gelombang panas telah melanda sejak empat hari lalu.
Warga memilih berdiam di rumah dan masjid untuk menghindari hawa panas.
Memperparah keadaan, pemerintah menerapkan pemadaman listrik sehingga warga sulit menggunakan pendingin ruangan (AC) dan kipas angin.
Wartawan BBC di Pakistan, Shahzeb Jillani, mengatakan protes terjadi secara sporadis di beberapa wilayah di Karachi. Demonstran menyalahkan pemerintah dan perusahaan listrik utama Karachi, K-Electric, karena gagal mencegah jatuhnya korban.
Perdana menteri sebelumnya mengumumkan bahwa tidak akan terjadi pemadaman listrik namun nyatanya pemadaman makin sering terjadi sejak awal Ramadan.
Hal itu membuat warga Karachi memilih berdiam di rumah. Iqbal, salah seorang penduduk Karachi, contohnya. Kepada BBC, dia mengatakan bahwa anggota keluarganya tidak bisa keluar rumah untuk bekerja karena panasnya cuaca dan semua orang di wilayah itu juga lebih memilih tinggal di rumah.
“Di daerah kami tidak ada listrik sejak pagi. Kami sudah mengeluh beberapa kali, namun tidak direspon oleh K-Electric,” katanya.
Menurut badan meteorologi Pakistan, cuaca akan mendingin pada pekan ini. Suhu tertinggi yang pernah dialami Karachi ialah 47 derajat celsius pada 1979.

Tantangan Ramadhan di Jerman

Tantangan Ramadhan di Jerman

Ramadhan yang jatuh pada musim panas di Jerman, membuat puasa seakan berat. Banyak pendatang Muslim yang memilih pulang kampung.
Dari Subuh hingga Magrib, di Jerman orang berpuasa 18 jam setiap harinya. Begitulah kenyataan bulan Ramadhan tahun ini. Meski begitu, Ramadhan adalah masa yang sangat indah bagi umat Islam, di manapun mereka berada. Ramadhan, bulan raya yang penuh tantangan.
"Susah bagi saya untuk tidak minum kopi di pagi hari," keluh Umm Aziz. Ia sudah 15 tahun menetap di Jerman, memiliki dua orang anak dan sejak beberapa tahun bekerja di rumah makan.
Banyak pendatang Muslim yang bekerja di bidang usaha ini. Pekerjaan mereka menjadi semakin berat karena berpuasa. Terus menahan dahaga, saat suhu udara di musim panas membuat mereka lekas letih dan lemas.
Barat bertemu Ramadhan
Meski begitu, umat Islam di Jerman tak bisa menghindar dari tugas kesehariannya. Pekerjaan di rumah harus dibereskan, kebutuhan anak-anak harus dipenuhi. Bagi kaum karyawan, tidak ada liburan empat minggu Ramadhan di Jerman.
Bagi Umm Aziz, semakin lama ia tinggal di Jerman, semakin kuat pula kebiasaan Barat mempengaruhi gaya hidupnya. Karenanya, puasa juga terasa semakin sulit baginya.
"Tahun ini pasti sangat berat. Biasanya saya tiba di restoran tengah hari dan harus menyiapkan berbagai hidangan untuk malam hari. Pelanggan kami banyak yang keturunan Arab. Setiap petang, mereka datang untuk berbuka puasa di sini , karena itulah saya menyiapkan berbagai jenis hidangan."
Banyaknya tamu sangat menguntungkan bagi restoran Arab yang berlokasi di kota Köln itu.
Sementara itu, Umm Aziz sering batal puasanya beberapa tahun terakhir ini. Ia berharap, tahun ini bisa berpuasa penuh. "Saya merasa tidak enak di akhir Ramadhan. Semua orang Islam merayakan Idul Fitri, sementara saya gagal."
Stress dan suhu panas
Bagi Haider Omar sudah pasti, Ramadhan ini ia tidak akan berpuasa. Ia juga pemilik sebuah restoran. Baginya berpuasa bisa berdampak buruk pada usahanya: "Saya harus mencicipi semua hidangan yang disiapkan, karenanya saya tidak berpuasa." Ia tidak mau menyuruh orang lain mencicipinya, kuatir bahwa rasa hidangannya akan berbeda.
Namun lelaki berusia 40 tahun itu juga punya masalah lain. Ia seorang perokok. Terlalu berat baginya untuk berkutat dengan rasa letih, kesibukan dan suhu panas di dapur, tanpa mengepulkan asap rokok. "Saya dulu juga berpuasa. Sebagai perokok, keinginan untuk merokok terasa sepanjang hari. Biasanya waktu buka puasa, saya akan menyulut sebatang rokok, sebelum mulai minum dan makan." Tak heran, Haider Omar sering terganggu peredaran darahnya.
Pulang kampung
Berpuasa di negara seperti Jerman, juga terasa lebih sulit karena bukan hal yang umum dilakukan oleh masyarakatnya. Tidak terlihat dukungan publik seperti di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Bila semua orang berpuasa, toko-toko tutup dan tidak ada godaan aroma Kebab dan Coca Cola hingga Magrib, maka berpuasa terasa jauh lebih ringan. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan banyak pendatang Muslim yang pulang kampung selama Ramadhan.
Imam Erol Pürlü dari Ikatan Pusat Kebudayaan Islam di Köln mengingatkan, "Dalam Islam berlaku aturan dasar, bahwa setiap orang hanya akan diberikan beban yang bisa mereka tanggung oleh Allah".
Artinya, bila orang itu sakit, hamil atau menyusui, maka ia berada dalam kategori orang yang tak bisa berpuasa. Untuk melunaskannya, kategori orang ini bisa membayar Fidyah, menyumbang uang kepada orang miskin.
Umm Aziz menceritakan bahwa putranya baru berpuasa penuh ketika menginjak usia 15 tahun. Menurut Imam Erol Pürlü, ini hal yang biasa saja. Disebutkan, seorang anak sudah bisa mulai berpuasa ketika menginjak usia 13 atau 14 tahun.
Namun, ada baiknya seorang anak diperiksa dulu kesehatannya oleh dokter sebelum berpuasa, karena hanya mereka yang sehat bisa mengatasi pengurangan gizi dan air minum selama empat pekan.

Berpuasa di Militer Jerman Bundeswehr

Berpuasa di Militer Jerman Bundeswehr

Tentara Jerman yang beragama Islam menghadapi tantangan berat selama bulan Ramadan. Mereka harus bisa menjaga kondisi dan konsentrasi selama bulan puasa.
Chaouki Aakil
Chaouki Aakil
Chaouki Aakil, 30 tahun, adalah Sersan Kepala di Batalyon Logistik. Ia juga bertanggung jawab atas keselamatan serdadu selama transportasi. Tugas ini menuntut konsentrasi yang tinggi. Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas. Ini berarti tantangan berat bagi serdadu Jerman yang beragama Islam.
"Terutama ketika bertugas di luar Jerman, ini cukup sulit. Waktu bertugas di Afghanistan, nurani saya mengatakan, saya tidak bisa berpuasa." Karena sebagai serdadu, di Afghanistan ia menghadapi beban fisik dan psikis yang sangat berat. Selain itu, ia berada dalam budaya yang sangat berbeda. Jadi ia harus berkonsentrasi penuh.
Keputusan Sulit
Puasa atau tidak, serdadu Jerman yang beragama Islam harus mengambil keputusan sendiri. Sebab dalam situasi ekstrim, berpuasa malah bisa mengganggu kesehatan, kata Michael Faust, dokter di Uniklinik Köln.
"Dalam misi yang panjang, tentara perlu konsentrasi tinggi. Dalam hal ini, minum jadi sangat penting." Tapi orang bisa bertahan tanpa makanan untuk waktu yang lama. Kebutuhan kalori bisa dipenuhi sebelum atau sesudahnya. "Ini memang bisa bermasalah bagi kesehatan, tapi tidak dramatis," kata Faust.
Pada akhirnya, setiap serdadu harus menentukan sendiri, apakah ia mampu berpuasa atau tidak. "Orang sakit, dalam perjalanan, wanita hamil atau menyusui, atau orang tua, boleh tidak berpuasa dan bisa menebusnya di hari lain," kata ahli Islam yang juga bertugas sebagai Imam di Bundeswehr, Erol Pürlu. Ini juga berlaku untuk orang-orang yang punya pekerjaan berat. "Berpuasa itu untuk memperbaiki kesehatan, bukan untuk merusaknya," tandas Pürlu.
Makanan Halal di Dapur Bundeswehr
Tidak mudah mengatur waktu makan di Bundeswehr selama puasa. "Tentu lebih sulit, karena ada jadwal dapur umum," kata Sersan Kepala Chaoukil Aakil. "Jadi masa buka puasa harus dibicarakan sebelumnya." Apalagi di Jerman, waktu buka puasa setiap hari bergeser beberapa menit. Jadi pekerja kantin harus bisa fleksibel. Tapi sampai sekarang, semuanya berfungsi dengan baik, ujar Aakil.
Menurut Aakil, militer Jerman menawarkan makanan "halal" sesuai dengan kemungkinan yang ada. Jadi selalu ada tawaran menu tanpa daging babi. Juga produk sampingan yang tidak halal seperti gelatin tidak digunakan.
Dapur umum Bundeswehr memang sudah menyiapkan diri. "Di sini di Unna, pembuatan makanan juga dilakukan terpisah," kata Aakil. Juru masak di dapur umum menggunakan sendok dan peralatan khusus untuk makanan halal. Mereka juga memperhatikan agar daging babi tidak disimpan tercampur dengan daging yang halal.
Jika jadwal kerja memungkinkan, Chaouki Aakil berusaha berbuka puasa dengan keluarganya. Baginya, bulan puasa adalah masa untuk berkumpul dengan keluarga. Berpuasa punya makna sosial. Seseorang yang menjalankan ibadah puasa, kata Aakil, ikut merasakan bagaimana kaum miskin merasa lapar dan kehausan, dan memupuk rasa solidaritas.

Setahun Pelajaran Agama Islam di Sekolah Jerman

Setahun Pelajaran Agama Islam di Sekolah Jerman

Sejak satu tahun ada mata pelajaran agama Islam di sekolah dasar Jerman. Tapi tenaga pengajar masih terlalu sedikit.
Islamischer Religionsunterricht der Klasse 2a, in Duisburg
kelas 2a, di Duisburg
Suasana di sekolah dasar Duisburg-Marxloh di kawasan Ruhr: 18 murid beragama Islam dari kelas 2-A masuk ke ruangan kelas. Gurunya adalah Huseyin Cetin. Pertama-tama mereka menyanyikan sebuah lagu memuji kebesaran Allah. Setelah itu, dibahas tema pelajaran tentang sikap menolong. Guru bertanya, siapa yang pernah membantu orangtuanya di rumah. Beberapa murid langsung mengangkat tangan.
Sejak tahun lalu, di sekolah dasar negara bagian Nordrhein Westfalen ada mata pelajaran agama Islam. Nordrhein Westfalen adalah negara bagian pertama yang menawarkan mata pelajaran ini. Tapi sampai sekarang masih ada kesulitan menerapkan pelajaran Agama Islam. Di kawasan Ruhr, diperkirakan ada sekitar 100.000 murid beragama Islam. Tapi yang bisa mengikuti pelajaran Agama Islam hanya sekitar 2000 murid. Artinya, hanya dua persen murid muslim yang bisa mengikuti pelajaran agamanya. Masalahnya: tenaga pengajar tidak cukup.
Menteri Pendidikan Nordrhein Westfalen Sylvia Löhrmann menerangkan, masih dibutuhkan waktu untuk mencetak tenaga pengajar. Mulai tahun pelajaran yang baru bulan September mendatang, situasi diharapkan sudah lebih baik.
Pengetahun murid berbeda-beda
Pendidikan guru pelajaran agama Islam di universitas Jerman memang baru dimulai. Di Universitas Münster sudah dibuka jurusan Pedagogi Islam. Tapi lulusan pertama baru ada tahun 2017. Sampai sekarang, mata pelajaran agama Islam diajarkan oleh tenaga pendidik lulusan dari luar negeri.
Huseyin Cetin mengajar di sekolah dasar Duisburg Marxloh. Dia belajar teologi dan pedagogi di Universitas Uludag di Turki. Sejak tahun 1999 dia sudah mengajar di kelas percobaan di Jerman.
Pengetahuan dasar para murid tentang Islam sangat berbeda-beda, kata Cetin. Tergantung apakah murid sudah pernah mengikuti pelajaran di mesjid. Pengetahuan tentang Islam juga tergantung dari negara asal orangtua murid.
"Tugas kami sebagai pengajar adalah menyatukan pengetahuan dasar yang berbeda-beda, dan, kalau ada, mengoreksi informasi yang salah", kata Cetin.
Terlalu sedikit buku pelajaran
Der Religionslehrer Ridwan Bauknecht unterrichtet (27.08.2012) in Bonn.
Pelajaran agama Islam di sekolah dasar Jerman
Sekolah yang belum memiliki guru agama Islam, memberikan pelajaran pengetahuan umum tentang Islam, yang berbeda dengan pelajaran agama. Pengetahuan umum ini tidak termasuk doktrin-doktrin agama.
Mouhanad Khorchide mengajar Pedagogi Islam di Univeritas Münster. Khorchide yang mengusulkan untuk memasukkan mata pelajaran Pengetahuan Islam dalam kurikulum sekolah, karena belum cukup guru agama Islam.
Tenaga pengajar untuk pengetahuan umum Islam direkrut dari guru-guru beragama Islam yang sekarang mengajar mata pelajaran lain, tapi tidak mengajar tentang Islam. Mereka mendapat pendidikan khusus dengan sertifikat sebagai pengajar Pengetahuan Islam.
Pengakuan peran agama Islam di Jerman
Salah satu yang mengikuti pendidikan khusus itu adalah Aziz Foodladvand. Di mengajar Pengetahuan Islam di beberapa sekolah di kota Bonn. "Tapi kami kekurangan buku pelajaran", katanya. Memang ada buku pelajaran berjudul "Saphir" untuk kelas lima dan enam. Tapi tidak ada buku pelajaran untuk kelas selanjutnya.
"Jadi saya mencari tema dan bahan sendiri untuk kelas-kelas selanjutnya. Tapi ini perlu waktu banyak", keluh Foodladvand. Dalam pelajaran ia mencoba berdiskusi tentang berbagai tradisi di negara-negara Islam. "Sering terjadi debat sengit, tapi pelajaran ini sangat produktif", katanya.
Menurut Mouhand Khorchide, gagasan memasukkan mata pelajaran agama Islam dis ekolah mendapat sambutan cukup positif. Banyak mahasiswa yang ikut kuliah Pedagogi Islam. Organisasi Islam di Jerman menyambut gagasan ini. "Ini adalah tanda bahwa agama Islam sudah diakui di Jerman. Warga muslim punya hak yang sama dengan warga yang lain," ujarnya.


Mencari 'Islam Eropa'

Mencari 'Islam Eropa'

Eropa mencari Islam yang prinsipnya sejalan dengan budaya modern dan nilai-nilai Eropa. Salah satu contoh bagus untuk itu adalah Islam di Bosnia.
Walau imigran dari negara-negara muslim sudah sejak berpuluh tahun datang ke Eropa, umat muslim di benua ini hidup hampir tanpa menarik perhatian masyarakat luas. Baru setelah serangan teror 11 September 2001, muncul banyak komentar skeptis bahwa Islam tidak sejalan dengan nilai-nilai Eropa. Islam dinilai sebagai agama yang tidak menjunjung demokrasi. Justru inilah yang membuat tradisi Islam di Bosnia dapat menarik bagi Eropa, kata Armina Omerika, cendekiawan Islam di Universitas Bochum dan peserta Konferensi Islam Jerman. Umat Muslim dan kristen sudah sejak lama hidup berdampingan khususnya di Bosnia-Herzegovina.
Tradisi Hidup Berdampingan
Muslim sebagai kelompok mayoritas di Bosnia sejak lama hidup berdampingan dengan Kristen Ortodoks dan Katolik, juga Yahudi. Pengalaman hidup bersama selama lebih dari 130 tahun di Monarki Austria-Hungaria yang berkarakter Kristen, membentuk Islam di Bosnia.
Warga Austria juga memberi perhatian pada keistimewaan tradisi Islam di Bosnia. Mereka mendirikan organisasi muslim mencontoh gereja kristen dan memperkenalkan dewan ulama Reisu-l-ulema. Dewan ini merupakan badan perwakilan tertinggi muslim Bosnia. Dan kedudukannya lah yang menjadikan tradisi Islam Bosnia menarik bagi dunia barat kata Omerika. "Bentuk institusional ini menggambarkan sesuatu yang dikenal barat, karena mereka dapat mensejajarkannya dengan bentuk paling umum dari organisasi keagamaan dalam struktur gereja."
Muslim di Polandia
Namun pertanyaannya, apakah 'Islam Eropa' memang sungguh dibutuhkan? Kerem Öktem, dosen pada Pusat untuk Studi Eropa di Universitas Oxford mengatakan, pengajuan pertanyaan itu saja sudah keliru, karena menguatkan bahwa "Islam adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang datang dari Eropa, dan karena itu harus didomestikkan, dieropakan atau dinasionaliasi."
Padahal tidak perlu demikian, tegas Öktem, karena Islam sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Bosnia dan Herzegovina adalah contoh, tapi juga Turki, Albania atau Bulgaria. Bahkan di negara-negara Eropa dimana orang tidak mengira ada tradisi sangat panjang dalam hal hidup berdampingan antara Islam dan Kristen. Misalnya di Polandia, terang Pater Adam Was, Dosen Islam di Universitas Katolik di Lublin. "Kami di Polandia punya pengalaman panjang dengan muslim, lebih dari 600 tahun, yaitu dengan etnis Tataren."
Sebuah kelompok minoritas, kurang dari 1% rakyat Polandia, namun identitas keagamaan mereka terjaga sejak lama. Bersamaan dengan itu, proses migrasi modern juga meninggalkan jejaknya di Polandia, terang Was. Masyarakat muslim tumbuh di negara yang berkarakter Katolik. Mahasiswa dari berbagai negara Arab datang ke Polandia di paruh kedua abad ke-20. "Banyak yang menikah di Polandia, membangun keluarga dan muncullah kelompok kedua," tambah Was.
Islam Eropa?
Di Eropa memang banyak komunitas berkarakter muslim, entah itu Turki, Aljazair, Albania, Bosnia atau Pakistan dan Iran. Namun mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda, memiliki latar budaya dan tradisi keagamaan yang juga berbeda-beda. Kerem Öktem dari Universitas Oxford menekankan, tidak mungkin atau tidak perlu menetapkan sebuah bentuk terpadu Islam untuk seluruh Eropa, karena "Ada terlalu banyak keragaman yang harus dipertimbangkan."
Karena itu tidak realistis bila mengharapkan bahwa sebuah tradisi islam, entah itu Bosnia atau lainnya, diambil sebagai model masa depan bagi semua muslim di Eropa. Öktem yakin, kelak ada model yang berbeda di masing-masing negara. Namun memiliki ciri khas yang sama, kata Adam Was. Islam dengan karakter Eropa, yang berbeda dengan islam di Afrika atau Asia Tenggara misalnya. Terkait kontekstualisasi sebuah agama, rumusnya adalah berbeda-beda namun tetap satu jua.
Islam dengan karakter Eropa, kata Adam Was, menghargai demokrasi, HAM dan kebebasan beragama. Itu berarti, diperlukan proses interpretasi ulang Al Quran, penafsiran baru terhadap ayat-ayat suci, kata Was. Ia menambahkan, "Muslim yang sudah berabad-abad hidup di Eropa juga bisa memberi kontribusi dalam hal itu."

UFO Berbentuk Awan

 UFO Berbentuk Awan

Seorang warga Philadelphia AS yakin telah melihat UFO setelah merekam gumpalan putih seperti awan yang bergerak mirip pesawat. Video ini telah diklik lebih dari 1 juta kali di Youtube.
Hector Garcia berada di rumahnya tanggal 4 Juli lalu, saat melihat bentuk aneh yang melayang di angkasa. Gumpalan putih itu pada awalnya tampak seperti awan bisa, namun kemudian berubah bentuk dan bergerak secara lebih cepat. Garcia yakin ia telah melihat sebuah UFO, benda terbang aneh.
Ia merekam pergerakan 'UFO' tersebut dengan ponselnya selama 92 detik. Filmnya ia unggah ke Youtube dan Facebook. Di laman Facebooknya ia menulis: "Saya melihat keluar jendela pagi ini dan ada awan yang turun dari langit dengan cahaya kelap-kelip. Gerakannya begitu aneh sehingga saya rekam dengan ponsel."
Postingannya mendapat respon yang viral dari para penggemar UFO. Mereka yakin ini bukti keberadaan makhluk angkasa luar atau alien. Di Facebook video ini telah dibagi lebih dari 8000 kali, sementara di Youtube telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali.

Bulan Mei 2015, ratusan warga Texas melaporkan adanya penampakan UFO setelah melihat bentuk awan yang aneh di kawasan Channelview.Nigel Watson, penulis buku UFO Investigations Manual, mengatakan: "Saya melihat banyak video UFO dan biasanya hasil rekamannya terlalu bagus untuk menjadi rekaman sungguhan atau obyeknya terlalu jauh dan tidak fokus hingga sulit menganalisanya. Dalam kasus ini, pada awalnya bentuknya tidak jelas, lalu 'awan' itu bergerak ke bawah dan bentuknya memang sangat aneh. Ini bisa hasil rekaman bohongan atau fenomena cuaca. Bentuknya memang sangat 'alien' dan penggemar UFO bertanya-tanya apakah ini pesawat tak berawak yang transparan atau bentuk organik yang tembus cahaya."

Dua Milyar Manusia di Bumi Kelaparan

Dua Milyar Manusia di Bumi Kelaparan

Dua milyar manusia di Bumi menderita kelaparan terselubung alias kurang gizi. Perang saudara, pengusiran dan pengungsian berdampak dramatis pada situasi pangan global.
Sedikitnya 800 juta manusia di 16 negara menderita kelaparan serius. Tambahan lagi sekitar 2 milyar lainnya di seluruh dunia menderita kurang gizi, sebuah bentuk kelaparan yang tidak kasat mata. Demikian laporan indeks kelaparan tahun 2014 dari organisasi bantuan pangan Jerman "Welthungerhilfe".
Parameter terpenting penentu indeks kelaparan adalah, tingkat kematian balita, jumlah balita kurang gizi dengan bobot kurang dari normal serta persentase orang yang kekuarangan gizi dari seluruh populasi warga. Penyebab utama kelaparan adalah kemiskinan yang diperparah oleh konflik bersenjata lokal maupun regional.
"Konflik seperti di Suriah dan Irak serta Sudan Selatan makin memperparah situasi kurang pangan di negara-negara bersangkutan," ujar Bärbel Dieckmann, presiden Welthungerhilfe. Pengungsi menghadapi ancaman bahaya lebih tinggi untuk mengalami kekurangan pangan atau penyakit.
Irak yang dilanda konflik berkepanjangan menunjukkan penurunan kualitas drastis, menempati posisi kedua terbawah indeks kelaparan dunia. Aksi kekerasan yang terus berlanjut, jumlah pengungsi domestik yang terus meningkat ditambah arus pengungsi dari Suriah, menyebabkan kuota warga kelaparan dan kurang gizi di Irak berlipat dua dibanding indeks tahun 1990.
Wabah penyakit ebola yang melanda beberapa negara di Afrika Barat seperti Sierra Leone dan Liberia juga diramalkan akan memperburuk penyediaan pangan dan meningkatkan ancaman bahaya kelaparan di bulan-bulan mendatang.
Tren positif berlanjut
Selain melaporkan ramalan suram serta naiknya indeks kelaparan di sejumlah negara berkembang, Welthungerhilfe juga mencatat kemajuan positif di sejumlah negara berkembang lainnya. Walaupun jumlah warga kelaparan tidak turun secepat yang diharapkan, namun terlihat kemajuan amat bagus di 26 negara.
Laporan Welthungerhilfe menyebutkan, terhitung sejak 1990, indeks kelaparan di negara-negara berkembang secara keseluruhan turun sekitar 39 persen. Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Brazil, Ghana, Peru, Angola dan Benin bahkan menunjukan prestasi sangat bagus, indeks kelaparan negara-negara ini turun lebih dari 50 persen.
Namun melihat kenyataan bahwa 2,8 milyar orang menderita kelaparan serius atau kurang gizi parah, organisasi bantuan pangan Jerman itu menyerukan perang melawan kelaparan di abad ke 21 harus dipacu dengan segala cara, termasuk program politik yang menunjang. "Dunia harus bekerjasama makin erat untuk mengatasi tantangan, dengan keberanian dan solidaritas," ujar presiden Welthungerhilfe.
Welthungerhilfe yang didirikan 1962 itu sejauh ini telah membiayai 7.350 proyek penanggulangan kelaparan dan kemiskinan di 70 negara dan telah mengucurkan bantuan senilai 2,66 milyar Euro.